Di Balik Senyum Anak-Anak, Ada Cerita yang Ingin Didengar

Kutai Kartanegara 23 Aug 2026 19:34 4 min read 137 views By Norman
Di Balik Senyum Anak-Anak, Ada Cerita yang Ingin Didengar
KKN Tematik Loa Duri Ilir Gelar Seminar Anti-Bullying di SDN 026

 

LOA DURI ILIR, 31 Juli 2026 — Anak-anak itu tersenyum. Sebagian tertawa, sebagian bercanda bersama teman. Mereka duduk berkelompok di dalam kelas SDN 026 Loa Duri Ilir, mengikuti kegiatan yang digelar mahasiswa KKN Tematik Loa Duri Ilir.

Hari itu, Jumat (31/7/2026), mereka tidak hanya belajar tentang bullying. Mereka diajak memahami satu hal yang jauh lebih sederhana, tetapi sering terlupakan: setiap anak ingin didengar.

Seminar Anti-Bullying menghadirkan Kak Adrian, salah satu mahasiswa KKN Tematik Loa Duri Ilir, sebagai pemateri. Dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak, ia mengajak siswa mengenali apa itu perundungan, bentuk-bentuknya, dampaknya bagi korban, serta apa yang dapat dilakukan ketika melihat atau mengalami bullying.

Bullying ternyata tidak selalu berbentuk kekerasan fisik.

Ejekan, perkataan yang menyakitkan, mempermalukan, mengucilkan, hingga perlakuan yang membuat seseorang merasa tidak berharga juga dapat meninggalkan luka.

Agar seminar tidak terasa seperti pelajaran satu arah, mahasiswa mengajak anak-anak berinteraksi, menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan berbagi pengalaman.

Namun, bagian yang paling membuka mata justru datang dari sebuah kotak curhat.

Kotak sederhana itu disediakan mahasiswa sebagai ruang aman bagi siswa yang belum berani bercerita secara langsung. Mereka tidak perlu berdiri di depan kelas. Tidak perlu menyebutkan persoalannya di hadapan teman-teman.

Cukup menuliskannya.

Kemudian memasukkannya ke dalam kotak.

Dari situlah muncul cerita-cerita yang selama ini mungkin tidak terlihat dari wajah mereka.

Ada siswa yang menceritakan pengalaman menjadi korban perundungan sejak duduk di kelas 3 sekolah dasar. Ada pula cerita mengenai kondisi yang membuat seorang anak merasa tidak aman di rumah.

Bahkan, terdapat tulisan yang menggambarkan tekanan emosional sangat berat hingga menyentuh persoalan keinginan untuk mengakhiri hidup.

Cerita-cerita itu menjadi pengingat bagi para mahasiswa bahwa senyum seorang anak tidak selalu berarti semuanya baik-baik saja.

Anak yang terlihat aktif di kelas bisa saja menyimpan ketakutan. Anak yang terlihat bermain bersama teman bisa saja sedang berusaha melupakan sesuatu. Anak yang memilih diam mungkin bukan karena tidak memiliki cerita, tetapi karena belum menemukan tempat yang membuatnya merasa aman untuk bercerita.

Kotak curhat itu akhirnya bukan sekadar bagian dari seminar. Ia menjadi pintu kecil menuju cerita-cerita besar yang selama ini tersimpan.

Di sana terlihat bahwa memberikan ruang aman kepada anak memiliki arti penting. Ketika mereka merasa tidak akan dihakimi, mereka perlahan berani membuka diri.

Temuan tersebut kemudian membawa pembahasan pada persoalan yang lebih luas. Pencegahan bullying tidak cukup hanya dilakukan di sekolah.

Sekolah memang memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman. Namun, rumah adalah tempat pertama seorang anak belajar mengenal kasih sayang, berbicara, memahami perasaan, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain.

Dalam perspektif Islam, anak merupakan amanah yang harus dijaga, dibimbing, dan dididik. Karena itu, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter sekaligus memberikan rasa aman kepada anak.

Parenting terbaik pun sesungguhnya dimulai dari rumah.

Orang tua tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga belajar mendengarkan. Memperhatikan perubahan perilaku. Tidak terburu-buru menghakimi. Dan yang paling penting, memberikan keyakinan kepada anak bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk pulang dan bercerita.

Anak perlu tahu bahwa ketika sesuatu membuatnya takut, sedih, atau tidak nyaman, ia tidak harus menghadapinya sendirian.

Hal ini juga menjadi pesan penting bagi anak-anak yang mengikuti seminar.

Bagi mereka yang pernah menjadi korban bullying, pengalaman buruk tidak menentukan harga diri mereka. Mereka tetap berharga, berhak dihormati, dan berhak mendapatkan rasa aman.

Sementara bagi anak yang pernah menyakiti temannya, masih selalu ada kesempatan untuk berubah.

Mengakui kesalahan, meminta maaf, berhenti menyakiti dan belajar memperlakukan orang lain dengan lebih baik adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Kegiatan kemudian ditutup dengan kebersamaan mahasiswa, siswa, dan pihak sekolah. Anak-anak berfoto menggunakan bingkai edukasi bertuliskan STOP BULLYING.

Sebuah kalimat sederhana.

Namun pesannya besar.

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar, berteman, bermain, dan tumbuh tanpa rasa takut direndahkan.

Seminar Anti-Bullying yang digelar mahasiswa KKN Tematik Loa Duri Ilir pada akhirnya bukan sekadar kegiatan sehari. Ia menjadi pengingat bahwa mencegah perundungan membutuhkan kepedulian bersama—dari sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Sebab, menghentikan bullying bukan hanya tentang menghentikan seseorang ketika sudah menyakiti.

Lebih jauh dari itu, kita perlu menciptakan lingkungan yang sejak awal mengajarkan anak untuk menghargai dirinya sendiri dan orang lain.

Dari rumah, anak belajar tentang kasih sayang. Di sekolah, mereka belajar hidup bersama. Dan dari lingkungan, mereka belajar bagaimana memperlakukan sesama.

Karena di balik setiap senyum anak, bisa saja ada cerita yang sedang menunggu untuk didengar. (*)

 

Penulis: Sisi — Mahasiswi KKN Tematik Desa Loa Duri Ilir.

Editor: Norman — Mahasiswa KKN Reguler Desa Manunggal Jaya

Chat with us on WhatsApp